KASUS DRAGON : DIDUGA JAKSA DAN HAKIM PENGADILAN NEGERI BATAM BERMAIN MATA

136

BATAM,Detik Global News.com – Sepertinya kasus persidangan tersangka Dragon yang beralamat di Jodoh dugaan penyalahgunaan alat kesehatan dengan segaja memproduksi  dan mengedarkan obat-obatan  tanpa izin,keputusan majelis hakim pengadilan negeri Batam patut dipertanyakan.

Setia Murni Sitanggang kepala kantor perwakilan Batam ketika hendak ditemui awak media ini untuk dikonfirmasi terkesan menghindar dengan berbagai alasan.Namun saat dikonfirmasi melalui ponsel seluler genggamnya menjawab ” bahwa berkasnya sudah  dilimpahkan kepihak yang berwewenang ” melalui pesan singkatnya.

Untuk memastikan kebenarannya sesuai penjelasan dari BPOM ,awak media ini kembali mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Batam dan bertemu dengan Kasi Pidum Ahmad fuady dikantornya “bahwa tidak mengakui adanya laporan dari pihak manapun tentang kasus temuan BPOM dengan tersangka DRAGON ” ungkapnya diruang kerjanya.

 Namun setelah melalui penelusuran yang begitu panjang hingga kepada pejabat  Kejaksaan Tinggi Kepri  awak media menemukan jaksa yang disebut-sebut menyidangkan kasus tersebut dan  ketika dikonfirmasi ke pihak jaksa Sdr.Yogi Nugraha S.H menegaskan ” hukuman yang dijatuhkan hanya 10 (sepuluh) bulan denda 20 juta rupiah,ungkapnya pada awak media ini.

Lalu awak media ini kembali mendatangi kantor Pengadilan Negeri Batam diperoleh informasi bahwa  sidang pertama digelar  pada tanggal 14 maret 2016,dan sesuai sidang putusan  tepatnya pada tanggal  25 april 2016 Pengadilan Negeri  Batam menjatuhkan putusan  terhadap “DRAGON “ dengan hukuman  3 (tiga) bulan 15 (lima belas) hari kurungan penjara  dan denda 10 (sepuluh) juta rupiah,ungkap sumber dikantor pengadilan.

Dari keterangan yang digali awak media ini dari jaksa Yogi Nugraha SH.terdapat perbendaan pendapat  terkait penjatuhan vonis hukuman penjara maupun denda kepada terdakwa “Dragon “sesuai dengan informasi yang diperoleh awak media ini dikantor pengadilan Negeri Batam,lalu bagaimana dengan kebenaran putusan tersebut ?

Tentu terkait kasus Dragon bukan hanya disitu saja ,kemana  barang sitaan yang dijadikan sebagai alat bukti ,hingga berita ini dimuat belum diketahui kemana rimbanya,apakah dilakukan pengembalian kepada pihak tersangka ataukah dilakukan pemunsnahan,informasi yang diperoleh awak media ini masih terkesan simpang siur.Tentu jika dilakukan pemusnahan barang bukti patutnya harus didasari dengan adanya berita acara ,dan dihadiri pihak BPOM maupun pejabat lainnya dari masing-masing instansi,apakah hal ini benar-benar dilakukan oleh pejabat hukum ?

Sesuai bunyi  pada pasal 197 uu no 36 tahun 2009 diterangkan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memeiliki ijin edar sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat 1dipidana dengan pidana penjara paling lama 15(lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

 Menyikapi perjalanan persidangan kasus ini yang diketuai oleh hakim Syahrial Harahap S.H.patut diduga persidangan perkara tersebut terkesan  hanya diatas kertas saja alias  tertutup bahkan  sepanjang pengamatan  awak media ini dikantor pengadilan negeri Batam tidak pernah ada sidang yang dilaporkan oleh pihak BPOM perwakilan Batam.Hanya saja hingga berita ini dimuat pihak pengadilan negeri Batam belum bersedia menunjukkan dokumen terkait berjalannya persidangan Sdr.Dragon dikantor pengadilan negeri Batam.(rs)