ROKOK TAK BERCUKAI RAJAI PASARAN, APARAT TUTUP MATA

Tanjungpinang, Detik Global News.com- Lemahnya pengawasan terhadap peredaran rokok tanpa cukai di Tanjungpinang Provinsi Kepri membuat para cukong kian merajalela. Aparat Bea dan Cukai (BC) yang berwenang mengawasi keluar masuk barang dari kawasan bebas ke kawasan berikat, terkesan menutup mata. Begitu juga dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemerintah Daerah setempat seakan tak berdaya.

Pantauan detik global news.com, terdapat sejumlah jenis merek rokok ilegal yang beredar serta perusahaan yang memproduksinya. Diantaranya, merk UN cigaret kretek 16 batang buatan PT Batu Karang Malang. Ada juga jenis rokok Revolution 16 batang yang diproduksi PT Universal Strategic Allience Mojokerto-Indonesi. Kemudian, jenis rokok merek STRONG, S mild, H mild, Luffman, Rave serta rokok berbagai jenis merk lainnya.

‎Dari penelusuran di lapangan, rokok khusus kawasan bebas ini, sengaja diselundupkan oleh sejumlah cukong penyelundup dari Batam ke Tanjunguban Kabupaten Bintan. Kemudian diangkut dengan menggunakan truk, lalu ditimbun dan diedarkan di Tanjungpinang, bahkan, kembali dikirimkan ke sejumlah pulau dan wilayah lain di Sumatera.

Informasi yang diperoleh detik global news.com, untuk memuluskan aksi penyelundupan, oknum aparat berwenang seperti BC dan Dinas Perdagangan diduga telah “diamankan” dengan memberikan setoran jutaan rupiah setiap bulan.

“Kalau Bea dan Cukai di Tanjunguban dan Tanjungpinang setoran-nya per bulan,” ujar salah seorang supir truk yang mengaku sering membawa barang dari Batam.

Selain aparat BC di Tanjungpinang, diduga pengamanan awal juga telah dilakukan di hanggar BC Batam. “Kalau tidak, mana mungkin barang kita bisa keluar,” ungkap supir truk yang enggan namanya ditulis itu lagi.

Dono (43), salah satu warga pemerhati peredaran rokok ilegal di Tanjungpinang mengatakan, peredaran sejumlah jenis rokok ilegal tersebut diketahuinya sudah sejak lama. Dia juga heran, karena tidak satu aparat berwenang pun di daerah ini yang berani menindak.

“Sudah lama kita perhatikan peredaran rokok ini, aman aman aja” ujarnya.

Sekedar untuk diketahui tambah Dono, ada sejumlah pasal dalam UU No 39 Tahun 2007 atas perubahan UU No 11 Tahun 1995 yang bisa menjerat para pelaku rokok dengan cukai palsu maupun rokok tanpa cukai resmi.

“Pasal 52 berbunyi, Pengusaha pabrik atau pengusaha tempat penyimpanan yang mengeluarkan BKC dari pabrik atau tempat penyimpanan dengan maksud mengelakkan pembayaran cukai, dipidana dengan penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan pidana denda paling sedikit 2 kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Kemudian pada Pasal 54, Setiap orang yang menawarkan, menyerahkan, menjual atau menyediakan untuk dijual BKC yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau tidak dilekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai lainnya, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan pidana denda paling sedikit 2 kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar, ” pungkasnya.

Sementara BC Tanjungpinang, hingga berita ini terbit belum bisa dimintai keterangan. Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini belum berhasil. (marudut)

Detik Video