LSM AMAN Meminta KPK dan MA Untuk Mengawasi akan Kinerja dari PN Batam

Spread the love

BATAM  – Terkait dengan kasus penikaman warga Negara Malaysia bernama Nong Koon Cheng alias Celvin (WNA) pada 10 April 2019 lalu oleh terdakwa Paulus Amat Tantoso, Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) sekaligus pengusaha penukaran uang asing (Valas) ini, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) “Aliansi Masyarakat Nusantara” (AMAN) Kota Batam Haposan Aritonang (Bakri Aritonang) menilai, terkesan Pengadilan Negeri (PN) Batam “mengistimewakan” sidang kasus tersebut.

Bakri Aritonang mengatakan “Bahwa kasus Amat Tantoso ini jika kita lihat mulai dari tahap persidangan pertama, kedua dan berikutnya akan dilanjutkan sidang ketiga untuk tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) (Replik) PN Batam selalu pada pagi hari”, Kamis (15/08/19).

“Padahal yang kita ketahui untuk setiap sidang Pidana di PN Batam selalu diadakan di siang hari”, ujarnya.

“Jadi, dalam hal ini PN Batam terkesan mengistimewakan kasus Amat Tantoso untuk dapat menghindari pantauan publik. Kasus ini mengapa berbeda dengan kasus pidana lain ?”, tanyanya.

Bakri juga mengatakan bahwa bapak Amat Tantoso yang memiliki bisnis di berbagai bidang dan ia termasuk orang terkaya di Batam. Namun dalam perjalanannya ia beberapa kali tersandung sejumlah kasus penggelapan pajak pada tahun 2006 lalu.

“Bukan hanya kali ini saja terlibat akan kasus pidana di kota Batam, seingat saya kasus beliau sudah pernah juga terpidana atas kasus penggelapan pajak. Kala itu, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam menghukum Amat Santoso, Ketua Asosiasi Valuta Asing Batam, dua tahun penjara dan membayar denda Rp 5 miliar. Amat dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus menggelapkan pajak transaksi jual beli valuta asing”.

“Direktur Utama PT Putra Kundur Valasindo itu didakwa melanggar aturan tata cara perpajakan. Vonis ini tak jauh dari tuntutan jaksa dua tahun penjara dan denda Rp 2,3 miliar yang dibacakan 28 Februari 2006 lalu”, jelasnya.

“Pada tahun 2016 lalu, Amat Tantoso kembali membuat masalah. Ia menenteng senjata api saat mengamankan pelaku penipuan di money changernya di Batam. Kasus tersebut tidak berlanjut.

“Ia mendirikan Hotel Vanilla Windsor (Hotel Kuning). Hotel tersebut sempat bermasalah karena memakan ROW jalan, namun belakangan “dimaafkan” Pemkot Batam” terangnya lagi.

“Dari pantauan kami, kasus pidana berat Amat Tantoso mulai dari tingkat penyidikan, hingga persidangan tetap dapat menghirup udara segar Sebab untuk penangguhan penahanan beliau selalu terkabul diberikan oleh pihak-pihak instansi terkait.

“Banyak kasus-kasus pidana lain di PN Batam yang lebih ringan dari kasus ini, tetapi kasus beliau agak berbeda di adakan di PN Batam. Sebab untuk sidang berikutnya juga terlihat dari web Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Batam yaitu tanggapan JPU atas eksepsi terdakwa (Replik) di adakan pagi hari pukul 09.00 wib”, terangnya.

“Jadi, dengan berjalannya perkara persidangan Amat Tantoso pria yang bergelar Datok ini, kami mohon dan meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mahkamah Agung RI untuk mengawasi akan kinerja dari PN Batam, agar terlaksananya Supremasi hukum untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan kepada seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali”, tutupnya. (Team)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "LSM AMAN Meminta KPK dan MA Untuk Mengawasi akan Kinerja dari PN Batam"