Direktur PT. ANNASYA JAYA MANDIRI Lely Fatima diduga Menipu Abraham Andri Lumban Tobing

Batam, Detik Global News.Com – Abraham Andri Lumban Tobing memaparkan semua permasalahannya yang diakibatkan sang Direktur PT. Annasya Jaya Mandiri Lely Fatima yang sudah dianggapnya saudaranya sendiri, saya tidak menyangka betapa teganya ibu Lely ini menghancurkan keluarga saya, apa kurang baiknya  saya membantu bu Lely ini sampai tega dianya menipu saya dan menghancurkan rumah tangga saya.

Permasalahan ini sebenarnya bermula karena Lely  minta tolong ke saya untuk mencari pinjaman uang dan saya mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang, namun diannya memelas dan terus membujuk saya supaya mencarikan uang untuk keperluan bisnisnya, karena saya juga mengingat dia (Lely-red) pernah membantu saya dan hati saya pun tergerak untuk mencari pinjaman uang untuk keperluan bisnisnya.

Dan Lely inipun berjanji akan secepatnya mengembalikan uang yang dipakainya, namun sampai sekarang uang yang saya titipkan itupun tidak dikembalikannya, padahal dia tahu dan dia sendiri menyuruh saya mencari pinjaman uang dari orang lain, setelah dia terbantu malah saya jadi menanggung semuanya dan istri meninggalkan saya, saya sekarang sangat susah dan keluarga saya berantakan karena ulah si Lely ini.

Abraham mengatakan, sangat menyesalkan kelakuan bu Lely ini, saya yang dirugikan malah saya jadi pengemis minta – minta tolong supaya uang yang dipakainya dikembalikan namun watak penipu dan dia selalu berjanji akan mengembalikannya dengan janji – janji penipu dan janji palsu yang dibalut dengan janji dusta.

Kalau uang yang saya titipkan atau yang dipakainya berkisar Rp. 200 juta (dua ratus juta rupiah) lebih, memang dia pernah menyicil pinjamannya dikatakan uang yang diberikan ke saya Rp. 10 juta (sepuluh juta rupiah), begitu saya hitung uangnya dirumah hanya Rp. 9 juta (sembilan juta rupiah) itu pun langsung saya telephon untuk memberitahukan uang yang diberikan itu tidak ada sepuluh juta dan bu Lelynya menjawab kenapa tadi tidak dihitung, pokoknya uang itu saya berikan pak Bram pas sepuluh juta dan saya jawab bu Lely uangnya sembilan juta jadi janganlah bu Lely terus berbohong.

Saya terus berupaya meminta uang itu sama bu Lely, sudah sangat capek dan lelah saya rasakan semua upaya sudah saya tempuh namun hasilnya nol, dan yang sangat menyakitkan persaanku karena terus saya minta uang yang dipakainya maka ibu Lely ini memberikan sertifikat rumah atas nama orang lain dan dia mengatakan ke saya, pak Bram setifikat rumah inilah dulu pegang sebagai jaminan, dan rumah itu sekarang mau dijual apa bila rumah itu terjual maka uang pak Bram yang saya pakai akan saya lunasi.

Selang beberapa hari (saya tidak ingat lagi), bu Lely datang lagi menemui saya, dan dia meminta sertifikat rumah yang saya pegang dan bu Lely mengatakan rumah itu sudah ada pembelinya maka perlu sertifikatnya untuk dilihat sipembeli dan saya pun menyerahkan sertifikat rumah itu, harapan saya semoga rumah itu terjual, dan saya menunggu hasil penjualan rumah itu namun tidak ada lagi kabar dari bu Lely, saya tertipu lagi.

Padahal yang punya uang terus datang meminta uangnya kerumah maka istri saya merasa malu dan tertekan dan istri pun mngambil kesimpulan dan mengatakan, selesaikanlah dulu utang mu itu baru kita rujuk kembali, sebelum utang mu itu lunas jangan kamu datang menjemput aku dan anak ku ini, pisah lah dulu kita dan aku pun pulanglah dulu kerumah orang tuaku, itulah kata terakhir dari istri saya, dan istripun berangkat pulang ke Medan, akibat perbuatan bu Lely ini rumah tangga kami hancur berantakan.

Semua sudah buntuh dan saya pun sekarang sudah menganggur, dan perusahaan tempatku bekerja mengeluarkan saya karena perusahaan mengetahui permasalahan yang saya hadapi, sangat berat rasnya untuk menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi ini, untuk menyelesaikan permasalahan ini, maka saya minta bantuan kepada Pengacara Rio F. Napitupulu, SH dan permasalahan saya ini sekarang sudah ditangani bapak Rio F. Napitupulu, SH.

Ketika hal permasalahan Abraham ini dikonfirmasi kepada Rio F. Napitupulu, SH dan Rekan Mangiring Manalu, SH (sebagai kuasa hukum) di kantornya yang beralamat di Komp. Ruko Gren California Blok B1 No. 1A Batam Centre, mengatakan dan menyayangkan  sifat ibu Lely yang tidak kooperatif, kami dari kantor hukum sudah tiga kali melayangkan surat undangan supaya hadir untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan, namun sampai sekarang tidak ada etika baik dari ibu Lely dan Pengacaranya.

Pernah kami dihubungi melalui Telephon, atas nama saudara Edi Ginting SH, Edi Ginting mengaku pengacara Ibu Lely dan membuat janji pertemuan namun tidak ditepati bahkan ironisnya saudara Edi Ginting tidak ada kabar beritanya lagi, sehabis itu ada lagi pengacara yang menghubungi kami yang mengaku pengacara ibu Lely yang bernama Dermawan Sinurat, itupun hanya janji doang tidak ditepati dan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, kedua Pengacara yang mengaku kuasa hukum ibu Lely ini harus mengupayakan permasalahan terselesaikan dengan baik,Bahkan sampai saat ini kita menunggu suatu penyelesaian dengan berunding terhadap pengacaranya tetapi tidak ada kepastian pertemuan, hingga sampai surat undangan yang kita layangkan sebanyak 3 kali. itu sepatutnya dijunjung tinggi semua Pengacara, dan dari kantor Hukum Rio Fernando Napitupulu, SH dan Partner sudah menyiapkan langkah hukum selanjutnya, dan seperti apa langkah hukum yang anda siapkan?, yang jelas langkah hukum yaitu, melaporkan bu Lely kepihak yang berwajib atau melaporkan ke Polisi. Itulah langkah hukum yang kami siapkan.

Di Grenland Food Street Batam Centre Sang direktur PT. Anassya Jaya Mandiri Lely Fatima yang disebut Abraham Andri Lumban Tobing “PENIPU” membantah semua tudingan Abraham.

Lely yang didampingi Kuasa hukumnya Dermawan Sinurat, SH mengatakan, Abraham itu rentenir, Abraham itu kerjaannya membungakan uang, dan uang yang saya pinjam sudah saya bayar dengan bunganya, jadi tidak sampai lagi utang saya Rp. 280 juta, sudah pernah saya cicil.

Ini ada surat perjanjian saya dengan Bram, ini perjanjian kami pak dengan menunjukan perincian pinjamannya, Rp. 70.200.000 ini sudah termasuk dengan bunganya, pokok pinjaman Rp. 60 juta bunganya Rp. 10. 200.000 bunga sebanyak ini per sepuluh hari pak, dan Rp. 117. 000.000 pokok pinjaman sebanyak Rp. 100.000.000 bunganya Rp. 17.000.000 ini juga per sepuluh hari, baru saya pinjam lagi, Rp. 35.400.000 ini, pokoknya Rp. 30.000.000 bunganya Rp. 5.400.000 bunganya ini perminggu, dan yang terahir yang saya pinjam Rp. 33.000.000 ini juga sama pokoknya Rp. 30.000.000, bunganya Rp. 3.000.000, bunganya ini perminggu juga.

Dari surat perjanjian inikan sudah jelas uang yang saya pinjam berbunga dan pak Bram ini sudah jelas rentenir, karena dia terus mendesak saya dan berganti – ganti orang dibawa kerumah saya, saya dan suami merasa dipermalukan, ada lagi polisi yang dibawa kerumah saya, karena pak Bram sudah memakai pengacara maka saya harus di dampingi pengacara, saya masih baik kok, jangan dipikir pak Bram saya ini tidak ada apa – apanya, saya ini dari keluarga besar Polisi, abang saya polisi, saya selalu koordinasi kepada keluarga besar saya yang Polisi.

Ya, utang saya tidak sampai Rp. 280.000.000. sudah pernah saya bayar Rp. 40.000.000. dan Rp. 192.000.000, jadi utang saya tidak sebesar itu lagi, dan juga pernah saya cicil lagi Rp. 10.000.000, dan pak Bram katakan uang yang saya berikan kurang cuma Rp. 9.000.000, padahal waktu saya berikan sudah saya katakan supaya dihitung dulu, uang sudah di bawa pulang kerumah baru dikasih tau kurang, itu salah siapa, yang jelas pak Bram itu Rentenir.

Dan hal ini ditimpali Dermawan Sinurat, SH, bahwasanya ibu Lely sudah pernah membayar sebahagian utang pinjaman uang, dan juga saya akui bahwa saya pernah menghubungi pengacara Rio Napitupulu, dan saya mengajak duduk bersama dengan menghitung masing – masing semua uang yang di pinjam ibu Lely dan yang sudah di bayarkan bu Lely, itupun harus seimbang jangan bertahan kepada apa yang dikatakan klien masing – masing, kalau bertahan  atas hitungan masing – masing saya tidak mau karena itulah saya tidak mau bertemu, dan juga Rio Napitupulu berada di Medan.

Selanjutnya Dermawan Sinurat, SH melanjutkan pembicaraannya, mungkin ini ada rasa ketidak puasan mereka karena surat somasinya sudah tiga kali dilayangkan namun kita tidak menanggapi, dan bagaimana kami menanggapinya sementara dari mereka masih tetap diangka Rp.280 juta percuma kita bertemu, sementara kita kan legal yang profesional ngapain kita berantam, tiga kali itukan memberikan somasi tidak ditanggapi sudah bisa masuk keranah hukum laporkanlah ke polisi undang – undang mengatur dan meperbolehkan itu, mereka kan Lawyer, pengacara profesionallah, jangan terus mengajak bertemu.

Tetapi kita boleh bertemu asal ada kesepakatan yang pasti jangan ada yang bertahan membela klien masing – masing atau jangan bertahanlah diangka Rp. 280 juta, marilah kita berbicara pengembalian pokok pinjaman, janganlah kita bertemu seperti berpacaran kalau kita bertemu tidak menguasai materi pokok permasalahan bisa menimbulkan pergesekan sehingga menimbulkan miskomunikasi sehingga terjadi keributan, legal yang profesional harus menghindari gesekan, justru karena itu silahkan laporkan ke polisi, biar disana kita jumpa, ujar Dermawan Sinurat, SH.  (Jhonner Sirait)

Detik Video